ASI dan 1.000 Hari Pertama Kehidupan: Kunci Menciptakan Generasi Emas Indonesia
Tata Pria Ananta dan Badriya Muthiatul Adzkia
Indonesia
Emas 2045 menjadi visi besar untuk masa depan bangsa Indonesia. Visi ini
bertujuan untuk mempersiapkan generasi emas dalam memaksimalkan peluang dan
menghadapi tantangan (Abi, 2017; Zulham & Romadhona, 2021 dalam Chendana,
2024). Visi ini menjadi harapan agar Indonesia menjadi negara yang maju dengan
ekonomi yang kuat, masyarakat yang berdaya saing tinggi, dan kualitas hidup
yang tinggi (Chendana, 2024). Hal ini dapat diwujudkan dengan memenuhi gizi
suatu bangsa, khususnya pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (Kemenkes,
2018). 1000 hari kehidupan terhitung sejak dalam kandungan hingga memasuki usia
dua tahun. Pada fase ini otak mampu bertumbuh secara pesat sehingga fase ini
dapat disebut sebagai periode emas kehidupan. Jika pada fase ini kekurangan
gizi, pertumbuhan seseorang akan terhambat dan tidak mampu diperbaiki di
kehidupan selanjutnya (Oktaviasari, 2021). Gizi yang cukup selama di dalam
kandungan akan menumbuhkan janin dan lahirnya bayi yang sehat dan kuat selama
pertumbuhan dan perkembangannya (Kemenkes, 2014 dalam Oktaviasari, 2021).
Salah
satu upaya yang dapat dilakukan untuk mempercepat perbaikan gizi menurut
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 tahun 2013 tentang Gerakan
Nasional Percepatan Perbaikan Gizi yang memprioritaskan Seribu Hari Pertama
Kehidupan (Gerakan 1000 HPK) yaitu memberikan ASI (Air Susu Ibu) kepada bayi.
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik bagi bayi karena mengandung zat gizi
yang paling sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi (Harahap, 2023).
Terdapat dua jenis ASI, yaitu ASI eksklusif dan ASI non eksklusif. ASI
eksklusif ASI Eksklusif adalah memberikan hanya ASI saja tanpa memberikan
makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai berumur 6 bulan,
kecuali obat dan vitamin (Pratiwi et al., 2024). ASI non eksklusif adalah
pemberian makanan tambahan selain ASI kepada bayi yang lahir hingga 6 bulan.
ASI
dapat memenuhi ⅔ kebutuhan energi
bayi pada saat 6-8 bulan dan ⅓ kebutuhan energi
bayi dapat dipenuhi dari Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Pada bayi yang
berusia 9-12 bulan, ASI mampu memenuhi ½
kebutuhan energi dan setengahnya lagi dapat dipenuhi dengan MPASI. Untuk bayi
yang berusia 1-2 tahun, ⅓ kebutuhan energinya
dapat dipenuhi dengan ASI dan ⅔ dapat dipenuhi
dengan MPASI yang semakin beragam. Namun, bayi yang mendapatkan ASI Non
Eksklusif lebih rentan mengalami penyakit dan alergi yang mengakibatkan gizi
bayi terganggu dibandingkan dengan bayi yang diberikan ASI Eksklusif, sehingga
pemberian ASI harus seimbang antara ASI eksklusif dan ASI non eksklusif
(Indriani. 2017). Kandungan gizi yang
terdapat dalam ASI yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin K, vitamin D,
vitamin E, vitamin A, vitamin B, asam folat, dan vitamin C, dan mineral. Dengan
kandungan yang bervariasi, ASI mampu menjadi nutrisi yang ideal bagi tumbuh
kembang bayi (Wijaya, 2019).
Selain
kandungan gizi ASI, cara ibu dalam menyusui sangat penting untuk diketahui agar
dapat memberikan ASI yang maksimal kepada bayi. Langkah-langkah pemberian ASI
berfokus pada dua hal, yaitu posisi ibu dan bayi dengan benar serta perlekatan.
- Cuci
tangan ibu sebelum menyusui bayi.
- Ibu
duduk dengan bersandar dengan posisi kursi yang tidak terlalu tinggi atau
berbaring dengan posisi yang nyaman.
- Sebelum
menyusui, ASI dikeluarkan sedikit dan oleskan ke sekitar puting dan areola
payudara untuk melembabkan puting susu.
- Letakkan
bayi menggunakan satu lengan dengan kepala bayi yang berada di lengkung
siku ibu dan lengan bawah ibu menumpu pantat bayi.
- Tempelkan
perut bayi dengan perut ibu dengan meletakkan satu tangan bayi ke belakang
tubuh ibu dan yang satu di depan serta kepala bayi yang menghadap payudara
ibu. Posisi telinga bayi berada di lengan ibu pada garis lurus.
- Setelah
memposisikan bayi, pegang payudara ibu menggunakan tangan dengan letak ibu
jari di atas dan jari yang lainnya menopang di bawah. Jangan menekan
bagian puting susu dan areola nya.
- Bukalah
mulut bayi dengan menyentuh pipi atau sudut mulut bayi dengan puting susu.
Segera dekatkan kepala bayi dan masukkan puting susu serta sebagian areola
setelah bayi membuka mulutnya
- Setelah
bayi mulai menghisap ASI, ibu tidak dianjurkan untuk memegang dan
menyangga payudara. Untuk melepas isapan ASI pada bayi setelah menyusui
yaitu dengan memasukkan jari kelingking ke dalam mulut bayi lewat sudut
mulut atau dapat menggunakan cara menekan dagu bayi ke bawah.
- Setelah
selesai menyusui, oleskan ASI ke daerah puting susu dan areola serta
biarkan mengering
- Untuk
menyendawakan bayi dapat dilakukan dengan cara menggendong bayi dengan
posisi tegak yang bersandar pada bahu ibu lalu tepuk perlahan-lahan
punggung bayi sampai bersendawa. Jika tidak bersendawa, tunggu 10-15 menit
atau tengkurapkan bayi di pangkuan (RSUD Wonosari, 2021).
Pengetahuan
mengenai pentingnya pemberian ASI Eksklusif dan MP-ASI yang tepat pada
masyarakat perlu ditingkatkan karena mampu mempengaruhi kesuksesan ibu dalam
pemberian ASI Eksklusif (Oktaviasari, 2021). Oleh karena itu, Hari ASI Sedunia
menjadi momen yang mampu meningkatkan kesadaran dan pengetahuan bangsa bahwa
ASI menjadi salah satu komponen yang mampu membentuk generasi yang sehat,
cerdas, dan produktif.
DAFTAR
PUSTAKA
Admin
RSUD Wonosari. (2021). TEKNIK MENYUSUI DENGAN BENAR UPAYA MEMPERLANCAR ASI. RSUD Wonosari
|TEKNIK-MENYUSUI-DENGAN-BENAR-UPAYA-MEMPERLANCAR-ASI_ID1089
Chendana,
L. E., Sebastian, B., Helen, H., Anandita, R., Gabriela, A., & Dariyo, A.
(2024). Indonesia Emas 2045: Membentuk Nasionalisme Generasi Alfa Berlandaskan
Nilai-Nilai Pancasila. Innovative: Journal Of Social Science Research, 4(6),
384-393.
Harahap,
A. S. (2023). Hubungan Pemberian Non ASI Eksklusif Terhadap Berat Badan Bayi
0-6 Bulan: Hubungan Pemberian Non ASI Eksklusif Terhadap Berat Badan Bayi 0-6
Bulan. Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia (Indonesian Health Scientific
Journal), 8(2), 66-76.
Indriani,
N., Hariyani, & Setiawati, S. A. P. (2017). PERBEDAAN PEMBERIAN ASI
EKSKLUSIF DAN ASI NON EKSKLUSIF TERHADAP STATUS GIZI PADA BAYI USIA 7-12 BULAN
DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS
SINGOTRUNAN BANYUWANGI. HEALTHY: 5(2), 33-45.
Kemenkes RI. (2018). Hasil Utama
Riset Kesehatan Dasar.
Retrieved from www.depkes.go.id/resources/download/info-terkini/hasil-riskesdas-2018.pdf
Oktaviasari,
D. I., & Nugraheni, R. (2021). Pentingnya Pemberian ASI Eksklusif dan
MP-ASI Dalam Upaya Mendukung Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK).
Journal of Community Engagement and Empowerment.
Pratiwi,
E. H., Yuliana, W., & Hikmawati, N. (2024). Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu
Dengan Pemberian Asi Eksklusif Pada Bayi Usia 7-12 Bulan Di Desa Cepoko
Puskesmas Sumber Kabupaten Probolinggo: The Correlation between Mother's
Education Level and Exclusive Breastfeeding for Infants Aged 7-12 Months in
Cepoko Village, Sumber Health Center, Probolinggo. ASSYIFA: Jurnal Ilmu
Kesehatan, 2(1),146-158.
Wijaya,
F. A. (2019). ASI Eksklusif: nutrisi ideal untuk bayi 0-6 bulan. Cermin Dunia
Kedokteran, 46(4), 296-300.