Autisme pada Anak: Penyebab dan Peran Gizi dalam Tumbuh Kembang
Autisme
pada Anak: Penyebab dan Peran Gizi dalam Tumbuh Kembang
Penulis:
Leny Safitri, Tata Pria Ananta
Sumber: UNICEF
Autisme atau Autism Spectrum
Disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan saraf pada anak. Gangguan
tersebut mempengaruhi perkembangan bahasa dan kemampuan seorang anak untuk
berkomunikasi, berinteraksi, serta berperilaku pada individu yang berbeda-beda.
Gangguan ini mulai tampak sebelum usia 3 tahun. Autisme bukanlah penyakit,
melainkan suatu kondisi dimana otak bekerja dengan cara yang berbeda dari orang
lain. Pada anak dengan gangguan autis, mengalami ketidaknormalan bagian otak
yang menyebabkan anak autis mengalami kesulitan dalam melakukan perencanaan,
rendahnya kemampuan pengontrolan emosi, mengalami gangguan dalam
mengintegrasikan informasi sensori yang diterima sehingga tampil dalam perilaku
atau respon yang tidak tepat.
Penyebab autisme belum diketahui
secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang berkontribusi terjadinya autisme.
Penelitian yang dilakukan oleh Affandi dkk pada tahun 2014 menunjukkan bahwa
ada beberapa faktor yang menjadi penyebab autisme. Faktor yang dapat menjadi
penyebab autisme adalah sebagai berikut.
- Faktor sebelum kelahiran
(prenatal)
Saat bayi
dalam masa kehamilan, terjadi infeksi TORCH (Toxoplasma, Other infections,
Rubella, CMV, Herpes) pada ibu. Infeksi TORCH selama kehamilan dapat mengganggu
perkembangan sistem saraf janin sehingga meningkatkan risiko terjadinya
autisme.
- Faktor saat kelahiran (perinatal)
Faktor saat kelahiran seperti kondisi asfiksia
neonatorum atau kekurangan oksigen dapat berakibat terhadap fetal distress yang
berpengaruh terhadap perkembangan pertumbuhan janin. Asfiksia neonatorum saat
bayi lahir akan mempengaruhi fungsi otak dan berkontribusi terhadap risiko
autisme.
- Faktor setelah kelahiran (postnatal)
Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) serta
riwayat kejang demam memiliki risiko lebih tinggi mengalami autisme. Hal ini
terjadi karena bayi dengan keadaan BBLR mengalami gangguan pada perkembangan
dan fungsi sel-sel otak.
- Faktor genetik
Orang tua yang mengidap autisme berisiko memiliki
anak dengan kelainan yang sama. Anak laki-laki memiliki risiko hingga 4 kali
lebih tinggi mengalami autisme dibandingkan dengan anak perempuan, karena dalam
tubuh anak laki-laki kurang kadar hormon estrogen yang mampu menetralisir
timbulnya autis, hormon testosteron akan memperparah keadaan, sedangkan pada
anak perempuan yang memiliki hormon estrogen yang cukup banyak justru dapat
memperbaiki kondisi tubuh.
Sumber:
UNICEF Indonesia
Autisme
mulai dapat terdeteksi sebelum anak berusia tiga tahun ketika gangguan dalam
perkembangan bahasa, komunikasi, dan interaksi sosial mulai tampak jelas.
Penelitian dari Bradshaw dkk. (2021) dan Artis dkk. (2025) menunjukkan bahwa
keterlambatan bahasa dan komunikasi sosial merupakan tanda awal yang sering
dilaporkan bahkan sejak usia balita. Penanganan yang tepat bagi individu dengan
autisme dapat diperoleh di berbagai fasilitas kesehatan seperti rumah sakit
anak, klinik tumbuh kembang, serta lembaga intervensi dini yang melibatkan
tenaga profesional seperti psikolog, terapis wicara, dan dokter spesialis anak.
Intervensi dini terbukti penting karena dapat meningkatkan hasil perkembangan
jangka panjang dan kualitas hidup individu dengan autisme (Artis et al., 2025
& Abualait et al., 2024).
Dukungan
terhadap individu dengan gejala autisme dapat dilakukan melalui pendekatan gizi
yang optimal, terutama karena gangguan pada sistem saraf memerlukan asupan
nutrisi yang mendukung fungsi otak. Studi dari Długosz dkk. (2025) dan Al-Beltagi (2024) menunjukkan bahwa
intervensi nutrisi memiliki peran penting dalam manajemen autisme, termasuk
melalui pengaturan diet dan suplementasi untuk mendukung fungsi neurologis.
Pada anak autis, pengaturan pola makan dengan memperhatikan kecukupan zat gizi
mikro seperti zat besi, zinc, dan asam lemak esensial omega-3 dapat membantu
mendukung fungsi kognitif dan pengendalian emosi, mengingat adanya
kecenderungan defisiensi mikronutrien tersebut pada anak dengan ASD (Kaczmarek
et al., 2024 & Abbasi et al., 2024). Selain itu, penanganan gizi juga
diperlukan untuk mengatasi kemungkinan gangguan pencernaan atau perilaku makan
selektif yang sering menyertai autisme, seperti food selectivity dan masalah
gastrointestinal, sehingga status gizi tetap terjaga dan mendukung proses
terapi secara keseluruhan (Pérez-Cabral et al., 2024).
Pengaturan
pola makan menjadi kunci utama, karena pada anak autis mengalami gangguan pencernaan dan
sensitivitas terhadap zat tertentu seperti gluten, kasein, serta bahan tambahan
makanan. Pemberian makanan bergizi seimbang yang bebas gluten dan kasein dapat
membantu mengurangi gangguan perilaku dan meningkatkan konsentrasi. Contoh
bahan makanan yang aman dan dianjurkan antara lain sumber karbohidrat seperti
beras, kentang, jagung, dan singkong; sumber protein seperti daging segar,
ikan, telur, tahu, tempe, serta kacang-kacangan; lemak sehat dari minyak kelapa
atau minyak zaitun; serta sayuran dan buah segar. Selain itu, minuman seperti
susu kedelai dan sari buah tanpa pengawet juga dapat menjadi pilihan. Dengan
pola makan yang tepat dan bervariasi, kebutuhan gizi anak autis dapat terpenuhi
sehingga mendukung kualitas hidup yang lebih baik.
Daftar pustaka
Abbasi, H., Parhiz, A., Khoshdooz, S.,
Bakhshimoghaddam, F., Doaei, S., & Gholamalizadeh, M. (2024). Impact of
omega-3 fatty acid supplementation on clinical manifestations in autism
spectrum disorders: an umbrella review of meta-analyses. Nutrition Research
Reviews, 1-12.
Abualait, T., Alabbad, M., Kaleem, I., Imran, H.,
Khan, H., Kiyani, M. M., & Bashir, S. (2024). Autism spectrum disorder in
children: early signs and therapeutic interventions. Children, 11(11),
1311.
Affandi, A., & Pratiwi, U. H. (2014).
Faktor-Faktor Penyebab terjadinya Autisme pada Anak Di Kota Cirebon. Tunas
Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan, 1(2), 235-240.
Al-Beltagi, M. (2024). Nutritional management and
autism spectrum disorder: A systematic review. World Journal of Clinical
Pediatrics, 13(4), 99649.
Artis, J., Nowell, S. W., Dubay, M., Grzadzinski,
R., Thompson, K., Choi, E., ... & Watson, L. R. (2025). Early Language,
Social Communication, and Autism Characteristics of Young Toddlers at Elevated
Likelihood for Autism Identified by the First Years Inventory–Lite. American
Journal of Speech-Language Pathology, 34(1), 347-363.
Bradshaw, J., McCracken, C., Pileggi, M., Brane, N.,
Delehanty, A., Day, T., ... & Wetherby, A. (2021). Early social
communication development in infants with autism spectrum disorder. Child
Development, 92(6), 2224-2234.
Daulay, N. (2008). Struktur otak dan
keberfungsiannya pada anak dengan gangguan spektrum autis: Kajian
neuropsikologi. Sumber, 1(88), 2012.
Długosz, A., Wróblewski, M., Błaszak, B., &
Szulc, J. (2025). The role of nutrition, oxidative stress, and trace elements
in the pathophysiology of autism spectrum disorders. International Journal
of Molecular Sciences, 26(2), 808.
https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/1631/autisme
https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/1339/makanan-untuk-anak-autis-yang-sehat-dan-kaya-manfaat
Kaczmarek, K. A., Dobrzyńska, M., &
Drzymała-Czyż, S. (2024). Iron, magnesium, zinc and selenium-The most common
elemental deficiencies in children with autism spectrum disorder. Research
in Autism Spectrum Disorders, 110, 102288.
Pérez-Cabral, I. D., Bernal-Mercado, A. T.,
Islas-Rubio, A. R., Suárez-Jiménez, G. M., Robles-García, M. Á., Puebla-Duarte,
A. L., & Del-Toro-Sánchez, C. L. (2024). Exploring dietary interventions in
autism spectrum disorder. Foods, 13(18), 3010.
Widiyanti, D., & Kusmita, D. (2016). Pengaruh
riwayat genetik dan jenis kelamin dengan kejadian autis. Jurnal Kebidanan
Besurek, 1(2), 82-88.