Hari Vegetarian Sedunia: Saatnya Memenuhi Gizi dari Sumber Nabati
1 Oktober 2025
Anisa Ferina M dan Javania Setia
Sumber
gambar: keslan.kemenkes.go.id
Setiap tanggal 1 Oktober, masyarakat
dunia merayakan Hari Vegetarian Sedunia. Peringatan ini bukan sekadar
mengurangi konsumsi daging, melainkan ajakan untuk lebih bijak dalam memilih
makanan yang menyehatkan tubuh sekaligus ramah bagi lingkungan. Pola makan
berbasis nabati terbukti dapat memberikan banyak manfaat gizi, asal
direncanakan dengan baik.
Indonesia memiliki keunggulan
tersendiri dalam mendukung gaya hidup vegetarian. Tempe dan tahu, dua pangan
tradisional berbasis kedelai, telah dikenal dunia karena kandungan proteinnya
yang tinggi, serat yang melimpah, dan manfaat kesehatannya. Bahkan, penelitian
di Bali menunjukkan bahwa remaja vegetarian memiliki asupan protein dan vitamin
C yang cukup baik dibandingkan dengan nonvegetarian (Purnawati & Aditama,
2012). Artinya, pangan lokal kita sebenarnya mampu mendukung kebutuhan gizi
masyarakat, asalkan dikonsumsi dengan variasi yang seimbang. Meski begitu, pola
vegetarian tetap memiliki tantangan. Zat besi nabati (non-heme) lebih sulit
diserap tubuh dibandingkan zat besi dari sumber hewani. Hal ini membuat remaja
putri vegetarian lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan seperti siklus menstruasi
yang tidak teratur akibat kekurangan zat besi (Pratiwi & Pramesthi, 2016).
Namun, kendala ini bisa diatasi dengan strategi sederhana yaitu dengan
mengkombinasikan makanan nabati sumber zat besi dengan buah kaya vitamin C.
Vitamin C
berperan penting karena mampu mengubah bentuk zat besi non-heme menjadi bentuk
yang lebih mudah diserap oleh usus. Misalnya, konsumsi nasi dengan sayur bayam
akan lebih optimal jika ditambah tomat, jeruk, jambu biji, atau pepaya. Bahkan,
penelitian menunjukkan bahwa penyerapan zat besi dapat meningkat hingga dua
kali lipat bila dikonsumsi bersama vitamin C. Dengan cara sederhana ini, risiko
anemia pada vegetarian dapat ditekan secara signifikan. Selain zat besi,
perhatian juga perlu diberikan pada mikronutrien lain seperti vitamin B12,
kalsium, dan omega-3 yang umumnya lebih banyak terdapat pada produk hewani.
Alternatif nabati seperti susu kedelai fortifikasi, kacang almond, biji rami,
chia, atau edamame bisa menjadi pilihan untuk menjaga kecukupan zat gizi tersebut.
Tidak hanya pada remaja, pola makan
berbasis nabati juga penting untuk anak-anak. Studi di Indonesia membuktikan
bahwa konsumsi tahu dan tempe mampu membantu meningkatkan berat badan balita,
sehingga keduanya efektif mendukung pertumbuhan anak sejak dini (Sari, 2012).
Hal ini menunjukkan bahwa protein nabati tidak kalah bermanfaat dari protein
hewani, selama diberikan dengan jumlah dan kombinasi yang tepat.
Hari Vegetarian Sedunia dapat
menjadi momen bagi kita untuk mulai lebih banyak menambahkan menu nabati di
piring makan. Tidak harus menjadi vegetarian penuh, namun langkah kecil seperti
“meatless day” seminggu sekali, menambah sayur dan buah, atau memperbanyak
konsumsi kacang-kacangan dan biji-bijian sudah menjadi kontribusi positif bagi
kesehatan. Peringatan ini mengingatkan kita bahwa memenuhi kebutuhan gizi dari
sumber nabati bukan hanya mungkin, tetapi juga menyehatkan, terjangkau, ramah
lingkungan, dan sesuai dengan kekayaan pangan Indonesia. Dengan pola makan yang
lebih berfokus pada nabati, kita tidak hanya menjaga tubuh tetap sehat, tetapi
juga ikut berperan dalam melestarikan lingkungan serta melanjutkan tradisi
kuliner lokal yang kaya akan olahan sayur, kacang, dan biji-bijian.
Pada akhirnya, pilihan sederhana
yang kita lakukan di meja makan hari ini dapat berdampak besar bagi kesehatan
generasi mendatang dan bumi yang kita tinggali bersama. Merayakan Hari
Vegetarian adalah ajakan untuk lebih bijak memilih pola makan yang ramah
lingkungan dan penuh kasih, sekaligus menjaga kesehatan tubuh dan keberlanjutan
planet ini untuk masa depan yang lebih cerah bagi semua makhluk hidup.
Daftar Pustaka
●
Purnawati, N., & Aditama, T. Y.
(2012). Kecukupan Asupan Gizi Remaja
Vegetarian dan Nonvegetarian di Yayasan Sri Sathya Sai Bali. Jurnal Gizi
Klinik Indonesia, 9(2), 87–95. Tersedia di: Neliti
●
Pratiwi, R., & Pramesthi, I.
(2016). Hubungan Status Gizi dan Asupan
Zat Gizi dengan Siklus Menstruasi Remaja Vegetarian di Kota Semarang.
Indonesian Journal of Public Health Nutrition, 1(1), 41–50. Tersedia di: Unnes Journal
●
Sari, N. M. (2012). Pengaruh Pemberian Tahu Tempe terhadap
Peningkatan Berat Badan Balita. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 7(1), 23–29.
Tersedia di: Neliti
● Baroni,
L., Rizzo, G., Galchenko, A. V., Zavoli, M., Serventi, L., & Battino, M.
(2024). Health benefits of vegetarian diets: An insight into the main topics. Foods, 13(15), 2398.
https://doi.org/10.3390/foods13152398