Optimalisasi Gizi Ibu Menyusui sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas ASI
1 Agustus 2025
oleh: Anisa Ferina Maharani dan Raihana Fadhilah
ASI (Air
Susu Ibu) merupakan cairan tubuh yang dihasilkan secara alami oleh kelenjar
payudara ibu pasca persalinan. Dalam ASI terkandung berbagai zat gizi makro
seperti karbohidrat, protein, dan lemak, serta zat gizi mikro seperti vitamin
dan mineral. Kandungan nutrisi dalam ASI telah terbukti mampu mencukupi
kebutuhan gizi bayi sesuai tahapan usianya. Oleh karena itu, ASI menjadi sumber
makanan utama yang ideal bagi bayi, khususnya pada enam bulan pertama
kehidupan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)[D2] tahun 2023 menganjurkan agar bayi diberikan ASI eksklusif
yaitu hanya mendapatkan ASI tanpa tambahan makanan atau minuman lain, hingga
usia minimal 4 hingga 6 bulan. ASI eksklusif sangat dibutuhkan oleh bayi, jika
tidak terpenuhi akan menimbulkan masalah dalam proses pematangan sistem imun
dan menyebabkan bayi mudah terserang penyakit infeksi. Penanganan penyakit
infeksi yang terlambat dapat memicu kematian. UNICEF menyatakan bahwa 30.000
kematian bayi di Indonesia dan 10 juta kematian anak balita di dunia setiap
tahun bisa dicegah melalui pemberian ASI eksklusif selama enam bulan sejak satu
jam pertama setelah kelahirannya tanpa memberikan makanan dan minuman tambahan
kepada bayi. Pemberian ASI memiliki peran yang sangat penting bagi tumbuh
kembang bayi, sehingga sangat dianjurkan. Namun, agar pemberian ASI dapat
berjalan secara optimal, dibutuhkan pula perhatian terhadap kualitas ASI yang
dipengaruhi oleh asupan nutrisi ibu selama masa menyusui.
https://ayosehat.kemkes.go.id/
Peringatan
hari ASI sedunia merupakan sebuah momentum yang berharga untuk meningkatkan
kesadaran dan dukungan keluarga serta masyarakat kepada ibu menyusui terhadap
pemberian ASI eksklusif untuk bayi. Dengan cara mengoptimalkan gizi pada ibu
menyusui karena Ibu Menyusui memiliki kebutuhan energi dan gizi yang lebih
tinggi, yakni sebesar 330 Kalori/hari untuk 6 bulan pertama dan 400 Kalori/hari
untuk 6 bulan kedua dibandingkan dengan orang dewasa lain yang tidak menyusui.
Asupan nutrisi dan gizi selama menyusui harus diperhatikan karena kandungan ASI
yang diperlukan oleh bayi sangat bergantung pada sumber nutrisi yang terkandung
dalam makanan yang dikonsumsi ibu.
Dalam
pemberian zat gizi pada ibu menyusui juga harus perlu diperhatikan pola makan
dan pemilihan bahan makanan yang sehat pada ibu menyusui. Pola makan yang sehat
merupakan pola konsumsi makanan yang mengandung kalori serta zat gizi makro dan
mikro sesuai kebutuhan tubuh, seperti karbohidrat, protein, vitamin, mineral,
serat, dan air. Bagi seorang ibu yang sebelumnya hanya makan tiga kali sehari,
pada masa menyusui dianjurkan untuk menambah frekuensi makannya dengan
pemilihan bahan makanan yang bergizi seperti :
2. Sayuran Hijau
Sayuran hijau seperti bayam, brokoli,
dan kangkung kaya akan zat besi dan kalsium yang berperan dalam membantu
produksi ASI. Di dalamnya juga terkandung vitamin C yang mempermudah penyerapan
nutrisi. Beberapa jenis sayuran seperti daun katuk diketahui memiliki senyawa fitosterol yang dapat merangsang serta
melancarkan produksi ASI. Daun katuk juga mengandung steroid dan polifenol yang
berfungsi meningkatkan kadar hormon prolaktin,
yaitu hormon yang berperan dalam kelancaran produksi ASI. Semakin tinggi kadar prolaktin, semakin baik pula proses
produksi ASI.
3. Buah Alpukat
Alpukat merupakan buah yang kaya
akan lemak sehat, termasuk asam lemak omega-3. Kandungan tersebut bermanfaat
tidak hanya untuk menunjang perkembangan otak bayi, tetapi juga untuk meningkatkan
kualitas dan kuantitas ASI yang dihasilkan.
4. Ikan
Ikan merupakan sumber pangan yang
bernilai gizi tinggi. Salah satu manfaatnya adalah membantu meningkatkan jumlah
dan mutu ASI. Sebagai contoh, ikan salmon mengandung beragam mineral, vitamin
(B1, B3, B6, B12), protein, serta vitamin D.
5. Air Putih
ASI mengandung sekitar 90% air. Oleh
karena itu, jika ibu menyusui tidak mengonsumsi cukup cairan, produksi ASI
dapat terganggu. Asupan air putih yang memadai sangat penting untuk menjaga
hidrasi tubuh sehingga proses produksi ASI dapat berjalan dengan baik.[D3]
Untuk mengoptimalkan gizi ibu menyusui lebih
terpadu, ada beberapa strategi[D4] yang bisa dilakukan untuk membantu mengoptimalkan gizi ibu
menyusui. Optimalisasi gizi ibu menyusui ini sendiri dapat dipahami sebagai
pemenuhan kebutuhan energi dan zat gizi makro maupun mikro secara adekuat
selama periode menyusui serta ibu menyusui dapat menerapkannya dengan makanan
konsumsi di rumah, dengan tujuan mendukung produksi ASI berkualitas tinggi dan
menjaga kesehatan ibu. Adapun strateginya, yaitu :
1.
Penyuluhan gizi seimbang pencegahan
stunting
2.
Pendidikan gizi dan demonstrasi
pangan bernutrisi, dan
3.
Pendekatan edukatif dalam asuhan
nifas dan menyusui.
Asupan gizi
yang memadai dan seimbang memegang peran penting bagi ibu menyusui dalam
menjaga kualitas ASI yang dihasilkan. Dengan mengatur pola makan bergizi,
memilih bahan makanan sehat seperti sayuran hijau, kacang-kacangan, ikan,
alpukat, serta memastikan kecukupan cairan, ibu menyusui dapat memenuhi
kebutuhan energinya selama masa menyusui. Ibu juga disarankan berkonsultasi
dengan tenaga kesehatan atau ahli gizi di puskesmas, rumah sakit, maupun
layanan gizi lainnya agar mendapatkan panduan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Mari bersama kita dukung pemberian ASI eksklusif dengan pemberian gizi optimal
pada ibu menyusui, “Gizi Ibu Terpenuhi, ASI Berkualitas, Generasi Hebat!”
DAFTAR PUSTAKA
Aulia, N.F., 2022. Tatalaksana
Pneumonia. Jurnal Medika Hutama, 3(2).
Hapsari, Q.C. et al., 2021. Hubungan
asupan protein, status gizi ibu menyusui, dan kandungan protein pada air susu
ibu (ASI): Telaah sistematik. Media
Kesehatan Masyarakat Indonesia, 20(5), pp.372–378.
doi:10.14710/mkmi.20.5.372-378.
Herawati, D. et al., 2023. Peran
Gizi Seimbang (PGS) pada Ibu Hamil dan Menyusui dalam Mencegah Stunting pada
Anak. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
(Abdimas), 5(3), pp.1127–1136. doi:10.22225/jpkm.v5i3.7105.
Laksita, J. et al., 2023. Hubungan
Pemberian ASI Eksklusif, BBLR, dan Status Gizi terhadap Kejadian Pneumonia pada
Bayi di RSUD Patuh Patut Patju Lombok Barat Tahun 2022. Midwifery Student Journal, 2(2), pp.64–83.
Maydinar, D.D. et al., 2024. Pola
makan dengan produksi ASI pada ibu menyusui di Wilayah Kerja Puskesmas Kota
Baru Kab. Lebong. Journal of Nursing and
Public Health, 12(2), pp.505–512.
Mujahidah, H. et al., 2021. Dampak
sikap ibu terhadap keberhasilan pemberian ASI eksklusif di Kecamatan Ilir Timur
II Palembang. Alami Journal, 5(2),
pp.101–107.
Nurmalita, S.R. et al., 2023.
Penilaian Status Gizi Ibu Menyusui Eksklusif dengan Metode 24 H Recall di
Kecamatan Sumbawa. Jurnal Tambora,
7(2).
Permatasari, E. et al., 2023.
Hubungan asupan gizi dengan produksi ASI ibu menyusui bayi 0–6 bulan Puskesmas
Langa Kabupaten Ngada. INSOLOGI: Jurnal
Sains dan Teknologi, 2(6), pp.1021–1029. doi:10.55123/insologi.v2i6.2742.
Ramadityo, D. et al., 2023. Moms,
konsumsi makanan ini agar ASI melimpah. Ayo
Sehat – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 4 August. Available at: https://ayosehat.kemkes.go.id/moms-konsumsi-makanan-ini-agar-asi-melimpah [Accessed 21 July 2025].
World
Health Organization. 2023. Infant and young child feeding. World Health
Organization.https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/infant-and-young-child-feeding