Protein Nabati sebagai Pilihan Terjangkau dalam Diet Tinggi Protein untuk Penderita TBC
Protein Nabati sebagai Pilihan Terjangkau dalam Diet Tinggi
Protein untuk Penderita TBC
24 Maret 2026
Oleh: Nailah Azzahrah dan Firda Ayu Susanto
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi kronis yang
disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, terutama menyerang sistem
pernapasan seperti paru-paru, meskipun bisa menyebar ke organ lain seperti
kelenjar getah bening, tulang, atau otak. Penularannya terjadi melalui udara
saat penderita batuk, bersin, atau berbicara, sehingga berisiko tinggi di
lingkungan padat penduduk. Pengobatan TB memerlukan komitmen panjang selama
minimal 6 bulan dengan resep antibiotik yang diberikan tanpa putus. Hal ini
bertujuan membunuh bakteri dan mencegah resistensi obat. Pada fase pemulihan,
perbaikan status gizi menjadi krusial untuk regenerasi jaringan paru yang
rusak.
Sumber
gambar : www.who.int
Sebagai penyakit infeksi kronis, TB memerlukan dukungan
imunitas yang kuat untuk melawan bakteri secara berkelanjutan, di mana protein
berperan sentral sebagai bahan baku pembentukan antibodi, enzim imun, dan sel
pertahanan tubuh seperti limfosit. Protein juga esensial untuk sintesis
jaringan baru, perbaikan sel paru yang rusak akibat infeksi, serta mencegah
kehilangan massa otot selama pengobatan panjang. Kebutuhan protein paling
tinggi pada fase pemulihan awal (bulan 2–6 pengobatan), saat tubuh fokus regenerasi
jaringan dan pemulihan berat badan. Diet tinggi protein nabati paling
direkomendasikan bagi pasien TBC dengan akses terbatas terhadap sumber protein
hewani, komorbiditas seperti diabetes atau hipertensi, anak dengan TBC dan gizi
kurang, serta pasien mengalami mual serta penurunan nafsu makan akibat obat
anti-TB. Di Indonesia, sumber murah dan mudah didapat seperti tahu, tempe,
kacang kedelai, kacang hijau, kacang tanah, serta biji-bijian dan serealia dari
pasar tradisional bisa dikombinasikan dalam menu harian misalnya nasi
tempe/tahu, bubur kacang hijau, atau sayur kacang untuk mencukupi kebutuhan
protein tanpa beban biaya berlebih, sambil mempercepat perbaikan paru dan
pemulihan keseluruhan.
Pemberian diet tinggi protein harus dioptimalkan sedini mungkin, terutama pada fase intensif (2 bulan pertama pengobatan), saat peradangan hebat dan metabolisme meningkat drastis untuk melawan Mycobacterium tuberculosis. Berdasarkan penelitian Putri Sari Wulandari dkk. (2023), pasien fase intensif berisiko 3,021 kali lebih tinggi mengalami status gizi kurang (underweight) dibanding fase lanjutan, sehingga perbaikan gizi awal krusial untuk keberhasilan konversi dahak negatif (BTA negatif). Sumber protein hewani seperti daging ayam, ikan, dan susu memang lengkap secara asam amino esensial, tetapi sering menguras anggaran rumah tangga; meski telur menjadi opsi lebih terjangkau (sekitar Rp2.000-3.000/butir), kebutuhan harian tetap menantang bagi keluarga berpenghasilan rendah. Oleh karena itu, kombinasi protein hewani dengan nabati seperti telur ditambah tempe/tahu atau kacang-kacangan menjadi strategi ideal untuk mencukupi 1,2–1,5 g/kgBB/hari tanpa beban finansial berlebih, sambil memastikan profil asam amino lengkap melalui pelengkap biji-bijian.
Sumber gambar: upk.kemenkes.go.id
TB merusak jaringan paru sehingga tubuh sangat membutuhkan
protein untuk regenerasi sel. Protein nabati seperti kedelai, tahu, tempe, dan
kacang-kacangan unggul dibanding protein hewani karena rendah lemak jenuh serta
kolesterol yang sering memicu inflamasi sistemik dan risiko jantung, terutama
pada pasien dengan komorbiditas. Selain itu, protein nabati kaya serat,
antioksidan, serta fitokimia anti-inflamasi yang melindungi sel dari radikal
bebas, mendukung pencernaan, dan mengontrol gula darah saat nafsu makan menurun
akibat obat TB. Meski bioavailability-nya lebih rendah daripada protein hewani
(yang lebih lengkap asam aminonya), protein nabati tetap berkontribusi
signifikan jika dikombinasikan dengan hewani seperti telur atau ikan untuk
profil nutrisi optimal, harga terjangkau, dan manfaat tambahan pencegahan
katabolisme serta perbaikan imunitas.
Langkah Praktis Menyusun Menu:
●
Kombinasi Bahan: Padukan nabati
(tempe/tahu) dengan hewani (telur/ikan) dan serealia (nasi/jagung) untuk asam
amino lengkap.
●
Teknik Memasak: Kukus atau rebus
agar protein utuh dan minim iritasi tenggorokan.
●
Porsi Harian: Target 1,2–1,5 g/kgBB,
misalnya 70-100g untuk dewasa 60kg, via 200g tempe + 2 telur + kacang.
Tuberkulosis bukan sekadar penyakit paru biasa, melainkan
ancaman serius yang menggerus gizi dan imunitas penderita. Namun, dengan
pengobatan rutin 6 bulan plus dukungan Diet Tinggi Protein Nabati yang
dikombinasikan bijak dengan sumber hewani terjangkau, pemulihan optimal bisa
dicapai bahkan oleh pasien dengan keterbatasan finansial. Manfaatkan Hari
Tuberkulosis Sedunia sebagai momentum: mahasiswa gizi dan masyarakat luas wajib
mengedukasi bahwa kekuatan paru-paru dimulai dari piring makan yang tepat kaya protein
nabati lokal, anti-inflamasi, dan mudah diakses di setiap pasar tradisional
Indonesia.
Daftar Pustaka
Adiutama, N. M., et al. (2021). Intervensi Edukasi Berbasis
Theory of Planned Behavior untuk Meningkatkan Kepatuhan Pengobatan, Nutrisi,
dan Pencegahan Penularan pada Pasien Tuberkulosis. Jurnal Ilmiah Keperawatan,
7(1).
Enrico, M. Y. (2023). Hubungan Tingkat Pendidikan dan
Status Gizi Terhadap Respon Pengobatan Tuberkulosis Paru pada Fase Intensif di
Puskesmas Rawat Inap Kota Karang. (Skripsi, Universitas Lampung).
Gunanegara, R. F., et al. (2023). Soy Protein Diet Improves
Nutritional Status: A Scoping Review. Journal of Medicine and Health,
5(2), 212-26.
Lafo, M. M., et al. (2025). Relationship between protein
intake and nutritional status with response therapy of intensive phase in
pulmonary tuberculosis patients in Dili and Oecusse. World Nutrition Journal,
8(12), 28-37.
Marseliana Y, Rachmalina S, Widjaja S. Peran Protein
dalam Mendukung Pemulihan Klinis Penderita TBC. Jurnal Kedokteran
Indonesia. 202
Wulandari, P. S., et al. (2023). The Relationship Between
Treatment Phase and Nutritional Status in Adult Tuberculosis Patients at Public
Health Centers in Jambi City. Jambi Medical Journal, 11(Special Issues)