Strategi Intervensi Gizi pada Hemofilia untuk Mendukung Kesehatan Sendi
Strategi Intervensi Gizi pada
Hemofilia untuk Mendukung Kesehatan Sendi
Penulis: Najwa Amalia dan Rizky Amalia
17 April 2026
Sumber: ayosehat.kemkes.go.id
Hemofilia
merupakan gangguan pembekuan darah herediter terbanyak di dunia saat ini dan
diturunkan secara X-linked recessive. Terdapat 2 jenis hemofilia yaitu
hemofilia A dan hemofilia B. Hemofilia A terjadi akibat mutasi gen faktor VIII
dan menyebabkan defisiensi faktor VIII yang dibutuhkan dalam pembentukan
fibrin. Sedangkan hemofilia B merupakan suatu kondisi kekurangan faktor IX yang
juga dibutuhkan dalam proses pembentukan fibrin. Insiden hemofilia A adalah
1:5.000-10.000 kelahiran bayi lelaki dan merupakan 85-90% dari seluruh kasus
hemofilia, sedangkan sisanya adalah hemofilia B (defisiensi faktor IX). Insiden
hemofilia B diperkirakan 1:30.000 lelaki. Diperkirakan terdapat sekitar 400.000
penderita hemofilia di seluruh dunia. Di Indonesia, sampai dengan akhir 2018
pasien hemofilia tercatat sebanyak 2098 orang berdasarkan data Himpunan
Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI), yang diperkirakan hanya 10% dari total
estimasi pasien, yaitu 20.000-25.000 kasus.
Gizi punya peran penting dalam
menjaga kesehatan pasien hemofilia, tidak hanya untuk sendi tetapi juga kondisi
tubuh secara keseluruhan. Asupan seperti zat besi membantu menjaga kadar
hemoglobin (Hb) akibat risiko perdarahan, vitamin C mendukung daya tahan tubuh
dan proses penyembuhan, serta protein berperan dalam perbaikan jaringan. Selain
itu, kalsium dan vitamin D juga dibutuhkan untuk menjaga kekuatan tulang.
Penyakit
hemofilia sebenarnya tidak hanya menyebabkan gangguan pembekuan darah, tetapi
juga berdampak besar pada kesehatan sendi. Perdarahan berulang di sendi
(hemarthrosis) menjadi salah satu masalah yang paling sering dialami penderita,
bahkan dilaporkan terjadi pada sekitar 75% kasus hemofilia, terutama pada
laki-laki dengan hemofilia A maupun B. Kondisi ini terjadi karena kekurangan
faktor pembekuan (faktor VIII atau faktor IX) sehingga perdarahan sulit
dihentikan. Jika berlangsung terus-menerus, hal ini dapat memicu peradangan dan
kerusakan sendi (hemophilic arthropathy) yang menyebabkan nyeri,
keterbatasan gerak, hingga penurunan kualitas hidup.
Pada
hemofilia, masalah sendi sering muncul akibat perdarahan berulang yang dapat
menyebabkan nyeri hingga kerusakan sendi. Kondisi ini bisa semakin berat jika
berat badan tidak terkontrol karena memberi beban lebih pada sendi. Oleh sebab
itu, pasien hemofilia perlu menerapkan pola makan seimbang sekaligus menjaga
berat badan tetap ideal. Pemenuhan zat gizi yang cukup, terutama protein,
kalsium, dan vitamin D, serta edukasi gizi yang tepat dapat membantu mendukung
kesehatan tubuh dan mengurangi risiko komplikasi.
Sumber: keslan.kemkes.go.id
Strategi intervensi gizi pada
hemofilia berperan penting dalam menjaga kesehatan sendi. Pendekatannya tidak
hanya memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi juga menerapkan pola makan seimbang
yang kaya sayur, buah, biji-bijian, dan protein rendah lemak untuk membantu
mengurangi peradangan dan memperbaiki jaringan. Asupan gula, garam, dan lemak
jenuh juga perlu dibatasi agar tidak memperburuk kondisi. Penerapan ini penting
dilakukan sejak dini dan dipantau secara berkala untuk menjaga status gizi
tetap optimal.
Salah satu pola makan yang dapat
diterapkan adalah Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH), yang
awalnya ditujukan untuk mengontrol tekanan darah, juga bermanfaat bagi pasien
hemofilia. Pola ini menekankan konsumsi buah, sayur, dan protein rendah lemak
serta membatasi makanan olahan, sehingga dapat membantu menurunkan peradangan
(Mahdavi et al., 2022). Bagi pasien hemofilia, manfaat ini penting karena dapat
mengurangi beban pada sendi, melindungi jaringan melalui asupan antioksidan,
serta mendukung kesehatan sendi dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Penerapan dalam kehidupan
sehari-hari dapat dilakukan dengan memilih makanan bergizi, memasak dengan cara
sehat seperti merebus atau mengukus, serta menjaga berat badan tetap ideal.
Aktivitas fisik ringan seperti berjalan atau berenang juga dapat dilakukan
secara aman untuk menjaga fungsi sendi. Upaya ini perlu dilakukan secara
konsisten dengan dukungan keluarga dan tenaga kesehatan agar mampu meningkatkan
kualitas hidup pasien hemofilia.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat
disimpulkan bahwa hemofilia merupakan penyakit kronis yang tidak hanya
berdampak pada sistem pembekuan darah, tetapi juga berpengaruh besar terhadap
kesehatan sendi dan kualitas hidup penderitanya. Perdarahan berulang pada sendi
dapat menimbulkan komplikasi jangka panjang apabila tidak ditangani dengan
baik. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang komprehensif dalam
pengelolaan hemofilia, salah satunya melalui intervensi gizi yang tepat. Pola
makan seimbang, pemilihan bahan makanan yang bergizi, serta penerapan gaya
hidup sehat berperan penting dalam menjaga berat badan, mengurangi beban sendi,
dan mendukung proses pemulihan. Selain itu, edukasi gizi yang berkelanjutan
sangat diperlukan agar pasien dan keluarga memiliki pemahaman yang baik dalam
menerapkan pola hidup sehat. Dengan dukungan tenaga kesehatan, keluarga, serta
kesadaran pasien dalam menjaga pola makan dan aktivitas fisik, diharapkan
kualitas hidup penderita hemofilia dapat meningkat secara optimal serta risiko
komplikasi dapat diminimalkan.
Daftar Pustaka
Ashour, I.M. (2023) ‘Assessment of nutritional status among adult hemophilia patients in Gaza Strip’, Proceedings, 88, p. 7. https://doi.org/10.3390/proceedings2023088007
Kaunang, T.A.S., Mongan, A.E. and Rampengan, N.H. (2024)
‘Hubungan kualitas hidup pasien hemofilia dewasa dengan status gizi, aktivitas
fisik dan tingkat keparahan hemofilia di Kota Manado’, PREPOTIF: Jurnal
Kesehatan Masyarakat, 8(3), pp. 7791–7799.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2021) Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/243/2021 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Hemofilia. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Killeen, R.B. and Cardenas, A.C. (2025) Hemarthrosis. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK525999/
Mahdavi, A., Mohammadi, H., Bagherniya, M., Foshati, S., Clark, C.C.T., Moafi, A., Elyasi, M. and Rouhani, M.H. (2022) ‘The effect of the Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) diet on body composition, complete blood count, prothrombin time, inflammation and liver function in haemophilic adolescents’, British Journal of Nutrition, 128, pp. 1771–1779. https://doi.org/10.1017/S0007114521004839
Ramakrishnan,
G.S., Ragendran, S.S., Venkatachalam, G.P., Rajan, J., Periyakaruppan, G.M.,
Muthupillai, H.V. and Wilson, B. (2025) ‘Nurses at the helm of transforming
lives in the shadows of hemophilia’, Bioinformation, 21(8), pp. 2639–2642. https://doi.org/10.6026/973206300212639