Susu Sapi atau Oat Milk: Mana yang Sebenarnya Dibutuhkan Tubuhmu?
Susu
Sapi atau Oat Milk: Mana yang Sebenarnya Dibutuhkan Tubuhmu?
Leny Safitri dan
Rizky Amalia
1 Juni 2026
Sumber: keslan.kemkes.go.id
Di
era modern ini, pilihan minuman sehari-hari sangat banyak pilihan.Rak-rak
supermarket kini dipenuhi berbagai varian susu nabati, mulai dari susu almond,
susu kedelai, hingga oat milk. Tren ini mencerminkan perubahan besar dalam pola
konsumsi masyarakat global, di mana pasar susu nabati dunia diproyeksikan
tumbuh hingga 9,9% per tahun pada periode 2023–2033 (Asif Noor et al., 2025).
Namun, di balik popularitasnya yang terus meningkat, susu nabati belum
sepenuhnya menggeser dominasi susu hewani khususnya susu sapi yang hingga saat
ini masih menjadi pilihan utama sebagian besar rumah tangga dunia, dengan
produk nabati hanya menyumbang sekitar 10% dari total penjualan susu secara
global (FAO, 2023; Capps et al., 2024).
Namun di balik popularitasnya, baik susu yang berasal dari sumber nabati
maupun sumber hewani, keduanya hadir dengan profil nutrisi yang sangat berbeda.
Susu sapi kaya akan protein lengkap, kalsium, fosfor, serta vitamin A, D, dan
B12 yang penting untuk kesehatan tulang dan fungsi imun tubuh (Grossi et al.,
2022), sementara oat milk unggul dalam kandungan beta-glukan yang
terbukti mampu menurunkan kadar kolesterol LDL (Yu et al., 2022), meski
kandungan proteinnya jauh lebih rendah bahkan sebuah studi menemukan sebagian
besar produk susu nabati memiliki kandungan protein, kalsium, dan vitamin D
yang lebih rendah dibandingkan susu sapi (Ramsing et al., 2025). Lantas, mana
yang sebenarnya lebih baik untuk tubuhmu? Mari kita telusuri lebih jauh.
Dalam
beberapa tahun terakhir, konsumsi oat milk menjadi populer sejalan dengan
adanya perubahan pola masyarakat menuju gaya hidup lebih sehat dengan konsumsi
susu nabati yang lebih rendah kalori dan lemak (Sethi et al., 2016). Oat milk
juga menjadi salah satu alternatif susu yang semakin populer, karena tidak
mengandung laktosa dan memiliki manfaat dalam membantu menjaga kadar kolesterol
darah. Minuman ini berasal dari oat sehingga dapat menjadi pilihan bagi
individu dengan intoleransi laktosa maupun mereka yang menjalani pola makan
vegan (Sethi et al., 2016).
Oat
milk memiliki keunggulan pada kandungan serat larut berupa beta-glukan. Senyawa
beta-glukan diketahui mampu membantu menurunkan kadar kolesterol LDL serta
mendukung kesehatan jantung. Penelitian oleh Wiryani & Yustiantara (2023) mengenai pengembangan oat milk menjelaskan
bahwa kandungan beta-glukan pada oat dapat membantu mengurangi risiko
hiperkolesterolemia dan penyakit kardiovaskular. Selain itu, oat milk memiliki
kandungan lemak jenuh yang lebih rendah dibandingkan susu sapi sehingga
dianggap lebih baik bagi sebagian individu yang ingin menjaga kadar kolesterol
darah.
Sumber:
health.clevelandclinic.org
Meskipun
oat milk baik untuk menjaga kadar kolestrol darah, oat milk memiliki kandungan
protein yang relatif rendah, yaitu sekitar 3 g per sajian 240 mL. Kontribusinya
hanya sekitar 23% terhadap pemenuhan kebutuhan protein anak usia 1–3 tahun
(Alsado et al., 2023). Selain itu, beberapa produk oat milk komersial
mengandung tambahan gula untuk meningkatkan cita rasa. Kandungan gula tambahan
tersebut perlu diperhatikan karena konsumsi berlebihan dapat meningkatkan
risiko obesitas dan gangguan metabolik. Oleh karena itu, konsumen disarankan
untuk memperhatikan label informasi nilai gizi dan memilih produk dengan
kandungan gula tambahan yang rendah (Alsado et al., 2023).
Di
sisi lain, susu sapi masih menjadi salah satu sumber nutrisi yang banyak
dikonsumsi karena memiliki kandungan gizi yang lebih lengkap. Susu sapi
mengandung sekitar 7,69 g protein per sajian 240 mL, jauh lebih tinggi
dibandingkan oat milk. Kandungan protein tersebut dapat memenuhi sekitar 60%
kebutuhan protein anak usia 1–3 tahun (Alsado et al., 2023). Selain jumlahnya
yang lebih tinggi, protein dalam susu sapi juga termasuk protein hewani
berkualitas tinggi yang mengandung asam amino esensial lengkap. Protein
tersebut berperan penting dalam mendukung pertumbuhan, pembentukan massa otot,
dan perbaikan jaringan tubuh (Shevkani et al., 2021). Susu sapi juga kaya akan
kalsium, fosfor, vitamin B12, dan vitamin D yang berkontribusi terhadap
kesehatan tulang dan gigi. Oleh karena itu, susu sapi masih menjadi pilihan
utama dalam memenuhi kebutuhan nutrisi harian, terutama pada anak-anak dan
remaja (Zahra et al., 2024).
Namun,
berbeda dengan oat milk yang bebas laktosa, susu sapi mengandung laktosa, yaitu
gula alami yang memerlukan enzim laktase untuk proses pencernaannya. Pada
individu dengan intoleransi laktosa, konsumsi susu sapi dapat menyebabkan
gejala seperti perut kembung, diare, mual, dan nyeri perut. Kondisi ini cukup
umum ditemukan pada populasi Asia, termasuk Indonesia, sehingga mendorong
sebagian masyarakat untuk beralih ke alternatif susu nabati seperti oat milk
(Sethi et al., 2016).
Dengan demikian, tidak dapat
disimpulkan bahwa salah satu jenis susu sepenuhnya lebih baik dibandingkan yang
lain. Pemilihan susu sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan, kebutuhan
gizi, serta pola makan masing-masing individu. Susu sapi cocok untuk mendukung
pemenuhan gizi dan pertumbuhan tubuh, sedangkan oat milk dapat menjadi
alternatif berbasis nabati yang mendukung kesehatan jantung dan sesuai bagi
individu dengan intoleransi laktosa. Keduanya dapat saling melengkapi, karena
tubuh memerlukan asupan gizi yang beragam untuk mencapai kesehatan yang
optimal. Baik susu yang berasal dari sumber hewani maupun nabati mengandung zat
gizi yang dibutuhkan tubuh dengan fungsi yang berbeda namun saling mendukung
dalam menjaga kesehatan dan memenuhi kebutuhan nutrisi sehari-hari.
DAFTAR
PUSTAKA
Alsado C, Lopez-Aldana L, Chen L,
Wismer W. Consumer Perception and Sensory Drivers of Liking of Fortified Oat
Milks. Foods. 2023;12(22):4097. https://doi.org/10.3390/foods12224097
Asif Noor, et al. (2025) 'The
rise of plant-based milk alternatives: Exploring nutritional, health, and
sustainability impacts', Food and Bioprocess Technology. Tersedia di: https://doi.org/10.1016/j.fbp.2026.01.049
Capps, O. et al. (2024) 'US household
demand system analysis for dairy milk products and plant-based milk
alternatives', Journal of the Agricultural and Applied Economics Association,
3(3). Tersedia di: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/jaa2.138
FAO (2023) Dairy market review:
overview of global dairy market developments in 2022. Rome: Food and
Agriculture Organization of the United Nations. Tersedia di: https://openknowledge.fao.org/server/api/core/bitstreams/10d58506-df7b-467d-b5f6-c868b2ee6fa3/content
Grossi, E., et al. (2022)
'Comparison of nutritional composition between plant-based drinks and cow's
milk', Frontiers in Nutrition, 9. Tersedia di: https://doi.org/10.3389/fnut.2022.988707
Ramsing, R., et al. (2025)
'Assessing the nutrient content of plant-based milk alternative products
available in the United States', Journal of the Academy of Nutrition and
Dietetics. Tersedia di: https://doi.org/10.1016/j.jand.2024.06.003
Sethi S, Tyagi SK, Anurag RK. Plant-based
milk alternatives an emerging segment of functional beverages: a review.
Journal of Food Science and Technology. 2016;53(9):3408–3423. https://doi.org/10.1007/s13197-016-2328-3
Shevkani K, Singh N, Bajaj R, Kaur A. Oat
Proteins: A Perspective on Functional Properties. LWT. 2021;152:112307. https://doi.org/10.1016/j.lwt.2021.112307
Wiryani LPL, Yustiantara PS. Review:
Pengolahan dan Pengembangan Oat (Avena sativa L.) menjadi Susu Nabati Rendah
Lemak bagi Penderita Hiperkolesterolemia. Prosiding Workshop dan Seminar
Nasional Farmasi. 2022;2:330–336. https://doi.org/10.24843/WSNF.2022.v02.p36
Yu, J., Xia, J., Yang, C., et al.
(2022) 'Effects of oat beta-glucan intake on lipid profiles in
hypercholesterolemic adults: A systematic review and meta-analysis of
randomized controlled trials', Nutrients, 14(10), p. 2043. Tersedia di: https://doi.org/10.3390/nu14102043
Zahra CDN, Leonita L, Alyasa RR,
Surtikanti HK, Priyandoko D. Karakteristik Nutrisi dalam Yoghurt pada Susu
Sapi, Kambing dan Oat. Jurnal Inovasi Pangan dan Gizi. 2024;1(1):1–10. https://doi.org/10.61511/jipagi.v1i1.968.