Dampak Infeksi Cacing Terhadap Malnutrisi dan Defisiensi Zat Besi
Sumber Gambar: upk.kemenkes.go.id
Infeksi
cacingan dapat memicu malnutrisi/kekurangan gizi serta kekurangan kadar zat
besi pada anak. Masalah kesehatan ini utamanya disebabkan oleh salah satu atau
kombinasi dari tiga jenis cacing usus yang menular melalui tanah (Soil-Transmitted
Helminths) dengan cara kerja yang berbeda. Pertama, cacing tambang yang
menempel di dinding usus dan menyerap darah secara perlahan, sehingga tubuh
kekurangan bahan baku untuk memproduksi sel darah merah atau biasa disebut
anemia. Kedua, cacing gelang yang berukuran besar dan gemar merebut asupan
karbohidrat serta protein yang dikonsumsi anak. Ketiga, cacing cambuk yang
dapat melukai dinding usus hingga memicu peradangan. Akibatnya, fungsi
rambut-rambut usus dalam menyerap nutrisi menjadi terganggu, nafsu makan anak
menurun, dan tumbuh kembangnya menjadi kurang maksimal.
Kelompok
yang paling rentan mengalami anemia dan kekurangan gizi akibat cacingan adalah
anak-anak usia balita hingga sekolah yang sedang dalam masa pertumbuhan aktif,
serta ibu hamil yang membutuhkan banyak asupan zat besi. Tanda-tanda seperti
lesu, pucat, dan penurunan berat badan biasanya baru muncul secara bertahap
dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah infeksi menguras cadangan
zat besi tubuh. Namun, gejala-gejala ini tidak serta-merta memastikan bahwa
anak pasti cacingan, karena kondisi lemas atau penurunan berat badan juga bisa
dipicu oleh masalah kesehatan lainnya. Oleh karena itu, cara paling akurat
untuk mengetahuinya adalah melalui pemeriksaan laboratorium terhadap sampel
tinja guna mendeteksi keberadaan telur atau larva cacing secara pasti.
Sumber
Gambar: keslan.kemenkes.go.id
Jika
hasil pemeriksaan menunjukkan anak positif cacingan, langkah medis pertama yang
harus dilakukan adalah mematikan sumber masalahnya melalui pemberian obat
cacing dari dokter, seperti albendazole atau mebendazole. Obat
ini berfungsi menghentikan aktivitas parasit yang mengisap darah dan merebut
nutrisi. Setelah usus bebas dari cacing, dokter akan fokus memulihkan kadar
hemoglobin anak melalui pemberian suplemen zat besi khusus. Agar penyerapan zat
besi di dalam usus berjalan lebih optimal, konsumsi suplemen ini biasanya
dibarengi dengan vitamin C dan perlu dilanjutkan selama beberapa bulan hingga
cadangan zat besi tubuh benar-benar kembali normal.
Bersamaan
dengan terapi medis tersebut, orang tua dapat mengoptimalkan proses pemulihan
gizi anak melalui perbaikan menu makanan sehari-hari. Beberapa cara pemenuhan
gizi dan sumber zat besi yang disarankan antara lain:
- Utamakan
Sumber Zat Besi Hewani
Berikan makanan yang zat besinya paling mudah dan cepat
diserap oleh tubuh anak, seperti daging merah (sapi/kambing), hati ayam, hati
sapi, kuning telur, dan ikan.
- Kombinasikan
dengan Vitamin C
Sediakan buah-buahan kaya vitamin C (seperti jeruk, jambu
biji, atau pepaya) saat anak makan, karena vitamin ini dapat membantu usus
menyerap zat besi dari makanan berkali-kali lipat lebih banyak.
- Tingkatkan
Protein Berkualitas Tinggi
Berikan asupan seperti ayam, ikan, tahu, atau tempe untuk
membantu memperbaiki jaringan usus yang sempat terluka sekaligus mengejar
ketertinggalan tumbuh kembang anak.
- Hindari
Teh saat Jam Makan
Jangan memberikan teh kepada anak di dekat waktu makan
karena kandungan tanin di dalamnya bisa mengikat zat besi di lambung dan
membuatnya terbuang sia-sia.
Pemerintah telah berusaha melakukan
upaya pemberantasan penyakit kecacingan dengan pemberian obat massal, promosi
gaya hidup sehat dan sanitasi yang bersih.(Depkes RI,17) Pencegahan terhadap
infeksi cacingan cukup mudah dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih
dan sehat (PHBS) yaitu cuci tangan pakai sabun setelah buang air besar, sebelum
makan, menggunting kuku, dan menggunakan alas kaki, menggunakan air bersih
untuk kebutuhan rumah tangga, menjaga kebersihan dan keamanan makanan,
menggunakan jamban sehat, mengupayakan kondisi lingkungan yang sehat.
Jika
Ibu dan Ayah mencurigai anak mengalami tanda-tanda cacingan, jangan ragu untuk
segera berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak atau Dokter Umum di fasilitas
kesehatan terdekat, seperti Puskesmas. Dokter akan membantu memberikan
diagnosis yang tepat serta meresepkan dosis obat cacing yang aman bagi anak.
Momentum seperti Hari Waspada Cacing yang diperingati setiap tahunnya menjadi
pengingat penting bagi kita semua untuk tidak lengah. Agar terus waspada, kunci
utamanya adalah menjaga kebersihan lingkungan rumah serta memberikan obat
cacing secara berkala setiap 6 bulan sekali sesuai anjuran Kementerian
Kesehatan. Dengan penanganan yang cepat dan kewaspadaan yang rutin, tumbuh
kembang anak akan tetap terjaga optimal dan bebas dari bahaya cacingan.
Daftar
Pustaka
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2017 tentang Penanggulangan
Cacingan. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman
pemberian obat pencegahan massal (POPM) cacingan. Direktorat Jenderal
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Profil
kesehatan Indonesia tahun 2020. Pusdatin Kemenkes RI.
Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendikbudristek.
(2022). Pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan dari cacingan pada
anak usia dini. Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini.
UNICEF. (2019). The state of the world’s children 2019.
Children, food and nutrition: Growing well in a changing world. UNICEF.
World Health Organization. (2017). Guideline: Preventive
chemotherapy to control soil-transmitted helminth infections in at-risk
population groups. World Health Organization.
World Health Organization. (2020). Soil-transmitted helminth
infections (Fact sheet). https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/soil-transmitted-helminth-infection
Sigalingging, G., Sitopu, S. D., & Daeli, D. W. (2019).
Pengetahuan tentang cacingan dan upaya pencegahan kecacingan. Jurnal Darma
Agung Husada, 6(2), 96–104. https://jurnal.universitasdarmaagung.ac.id/