Bebas Cacingan Langkah Awal Menuju Gizi Sehat
Oleh: Naura Aulia Hernanda dan Javania Setia Yokhanan
23 Juli 2025
Sumber:
keslan.kemenkes.go.id
Infeksi cacing masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berdampak langsung pada status gizi. Cacing seperti Ascaris lumbricoides, cacing tambang, dan Trichuris trichiura hidup di dalam saluran pencernaan dan menyerap nutrisi penting yang seharusnya digunakan tubuh untuk tumbuh dan berkembang. Akibatnya, tubuh mengalami kekurangan zat gizi seperti protein, zat besi, dan vitamin, yang pada akhirnya dapat menyebabkan anemia, penurunan berat badan, bahkan stunting. Pada balita dan anak usia sekolah, kecacingan dapat memperburuk kondisi gizi, menurunkan nafsu makan, serta menyebabkan gangguan penyerapan nutrisi di usus.
Peringatan Hari Waspada Cacing yang jatuh setiap 23 Juli
menjadi momen penting untuk mengingatkan masyarakat akan bahaya infeksi cacing
dan pentingnya pencegahan. Infeksi ini sering kali dianggap sepele, padahal
dampaknya dapat sangat serius, terutama pada kelompok usia tumbuh. Di berbagai
daerah pedesaan dan perkotaan di Indonesia, masih ditemukan kasus kecacingan
pada anak yang berhubungan dengan gejala gizi buruk. Kebersihan lingkungan yang
rendah, kurangnya akses air bersih, serta kebiasaan tidak mencuci tangan
sebelum makan menjadi faktor utama penyebaran cacing.
Kelompok yang paling rentan terhadap kecacingan dan
dampaknya terhadap gizi adalah balita dan anak usia sekolah. Selain karena
sistem imun yang masih berkembang, mereka juga lebih sering terpapar tanah atau
lingkungan kotor saat bermain. Ketika infeksi berlangsung dalam jangka waktu
lama, tubuh kehilangan banyak nutrisi secara terus-menerus. Hal ini memperbesar
resiko terjadinya gagal tumbuh, gangguan perkembangan mental, dan menurunnya
daya tahan tubuh.
Sumber: www.unicef.org/indonesia
Seseorang dapat mulai mengalami dampak gizi akibat infeksi cacing sejak cacing menetap dan berkembang biak dalam saluran pencernaan. Infeksi cacing sangat mempengaruhi status gizi anak karena cacing-cacing di usus akan mengambil nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh, khususnya protein dan zat besi. Akibatnya, asupan protein yang seharusnya digunakan untuk membangun dan memperbaiki jaringan tubuh berkurang, sehingga anak rentan mengalami gagal tumbuh dan stunting. Selain itu, kehilangan zat besi akibat perdarahan di usus karena cacing tambang dapat menyebabkan anemia, yang berdampak pada menurunnya energi, konsentrasi belajar, dan daya tahan tubuh anak. Oleh karena itu, pengobatan kecacingan sebaiknya selalu diiringi dengan upaya pemulihan status gizi melalui konsumsi makanan tinggi protein, suplementasi zat besi, dan pemantauan status gizi secara berkala.
Dalam mencegah kecacingan dan menjaga status gizi,
diperlukan upaya yang konsisten melalui penerapan perilaku hidup bersih dan
sehat. Langkah pencegahan yang bisa dilakukan antara lain mencuci tangan dengan
sabun sebelum dan sesudah makan, menggunakan alas kaki saat beraktivitas di
luar ruangan, serta memastikan makanan yang dikonsumsi sudah dimasak dengan
matang dan bersih. Selain itu, penting juga melakukan pemberian obat cacing
secara rutin yaitu minimal setiap 6 bulan sekali, terutama pada anak-anak usia
sekolah yang rentan terinfeksi. Menjaga status gizi dapat dilakukan dengan
mengonsumsi makanan bergizi seimbang, mencakup karbohidrat sebagai sumber
energi yang dapat diperoleh dari makanan seperti nasi, roti, dan kentang.
Protein berfungsi untuk membangun dan memperbaiki jaringan tubuh yang dapat diperoleh dari makanan seperti
telur, tempe, ayam, dan ikan. Lemak sebagai cadangan energi dan penyerapan
vitamin yang dapat diperoleh dari makanan seperti alpukat, kacang-kacangan, dan
minyak zaitun. Selain itu, terdapat vitamin dan mineral untuk menjaga daya
tahan tubuh yang dapat diperoleh dari makanan misalnya vitamin A dari wortel,
zat besi dari hati ayam, dan vitamin C dari jeruk. Asupan zat gizi yang cukup
akan membantu memperkuat daya tahan tubuh sehingga tidak mudah terinfeksi serta
meminimalkan dampak buruk dari infeksi cacing terhadap kesehatan dan
pertumbuhan, terutama pada anak-anak.
Infeksi cacing sering dianggap sebagai penyakit ringan,
tetapi di berbagai studi menunjukkan bahwa dampaknya terhadap status gizi dan
kualitas hidup, terutama pada anak-anak tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu,
pencegahan tidak cukup hanya dilakukan sekali, tetapi perlu menjadi bagian dari
kebiasaan hidup sehari-hari. Kolaborasi antara keluarga, sekolah, tenaga
kesehatan, dan pemerintah sangat penting dalam membentuk lingkungan yang
mendukung perilaku hidup bersih dan sehat. Konsultasi rutin, edukasi gizi, dan
akses terhadap obat cacing perlu terus ditingkatkan agar pencegahan dan
penanganan dapat berjalan optimal. Pada momen peringatan Hari Waspada Cacing
ini, mari kita perkuat kesadaran akan pentingnya sanitasi dan gizi sebagai
fondasi utama dalam melindungi generasi muda dari ancaman infeksi cacing.
Dukungan dari semua lapisan masyarakat akan sangat membantu menciptakan
kehidupan yang lebih sehat, aktif, dan bebas dari kecacingan. ***selesai***
Daftar Pustaka
Aji Winarso, F. S. (N.D.). Pengaruh Klimat Terhadap Infeksi
Nematoda Saluran Pencernaan Pada Sapi Potong Di Kabupaten Bojonegoro, Provinsi
Jawa Timur. Jurnal Kajian Veteriner,
1-4.
Haniifa Aulia, A., Arie Suwanto, Y., Wahid Hasyim, U.,
Kedokteran, F., & Menoreh Tengah, J. (2024). Prevalensi Infeksi Kecacingan Dan Stunting Pada Balita Di Kelurahan
Sukorejo Gunungpati Prevalence Of Soil Transmitted Helminths And Stunting In
Toddlers In The Sukorejo Gunungpati District. 1(2). https://jurnal.unusultra.ac.id/index.php/biokatalis/index.
Mahardika, A., & Ismawatie, E. (n.d.). Hubungan Infeksi Kecacingan Dengan Gejala
Stunting Pada Anak Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Kebon Jeruk.
Oktaviana, D., & Kade Adi Widyas Pranata, G. (n.d.). Status Gizi Dan Infeksi Cacing Pada Anak Di
Perdesaan Indonesia Nutritional Status and Helminthiasis Infection among
Children in Rural Area, Indonesia.
Siska Kusuma Wardani, ,. P. (2016). Perbandingan Profil
Kadar Il-5 Dan Jumlah Eosinofil Pada Petani Yang Terinfeksi Soil Transmitted
Helminth Di Dusun Sumberagung Kecamatan Gurah Dan Dusun Janti Kecamatan Papar
Kabupaten Kediri. Jurnal Biosains
Pascasarjana, 64-80.
Talitha Ulayya, A. C. (2018). Hubungan Asupan Protein, Zat
Besi, Dan Seng Dengan Kejadian Infeksi Kecacingan Pada Balita Di Kota Semarang.
Journal Of Nutrition College,
177-185.